|
UPACARA KEMATIAN |
|
|
I. Membersihkan Jenazah |
|
| 1 |
PUBBABHĀGANAMAKĀRA
Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (Tikkhattuṁ)
Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Mahāsuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna. (tiga kali)
|
127 |
| 2 |
PAṀSUKULĀ GĀTHĀ
Aniccā vata saṅkhārā Uppādavaya-dhammino Uppajjitvā nirujjhanti Tesaṁ vūpasamo sukho. Sabbe sattā maranti ca Mariṁsu ca marissare Tathevāhaṁ marissāmi Natthi me ettha saṁsayo.
Segala bentukan tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam; setelah timbul akan lenyap. Padamnya bentukan-bentukan adalah kebahagiaan. Semua makhluk mengalami kematian. Mereka telah mengalami kematian, dan akan mengalami lagi. Demikian pula, saya pasti mengalami kematian. Tiada keraguan bagiku tentang hal ini.
|
137 |
|
II. Menjelang Diberangkatkan Ke Makam atau Ke Perabuan |
|
| 3 |
PUBBABHĀGANAMAKĀRA
Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (Tikkhattuṁ)
Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Mahāsuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna. (tiga kali)
|
127 |
| 4 |
SARAṆAGAMANA PĀṬHA
Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Dutiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Dutiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Dutiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Tatiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Tatiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Tatiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Aku berlindung kepada Buddha. Aku berlindung kepada Dhamma. Aku berlindung kepada Sangha. Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha. Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Kedua kalinya aku berlindung kepada Sangha. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Sangha.
|
127 |
| 5 |
BUDDHĀNUSSATI
Iti pi so bhagavā arahaṁ sammāsambuddho, Vijjācaraṇa-sampanno sugato lokavidū, Anuttaro purisadammasārathi, satthā devamanussānaṁ, buddho bhagavāti.
Karena itulah1 Sang Bhagavā, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan. _________________________ 1 ‘Iti’ disini bermakna sebagai ‘sebab’ (Sīlakkhandhavagga-aṭṭhakathā).
|
95 |
| 6 |
DHAMMĀNUSSATI
Svākkhāto bhagavatā dhammo, Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko, Opanayiko paccattaṁ veditabbo viññūhīti.
Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā, terlihat amat jelas, tak bersela waktu1, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing. _________________________ 1 Tiada sela atau jeda waktu antara pencapaian Jalan dan pengenyaman Buah.
|
96 |
| 7 |
SAṄGHĀNUSSATI
Supaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Ujupaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Ñāyapaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Sāmīcipaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Yadidam cattāri purisayugāni aṭṭhapurisapuggalā, Esa bhagavato sāvakasaṅgho, Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjalikaraṇīyo, Anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassāti.
Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak baik, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak lurus, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak benar, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak patut, Mereka adalah empat pasang makhluk, terdiri dari delapan jenis makhluk suci1. Itulah Saṅgha siswa Sang Bhagavā; Patut menerima pujaan, patut menerima sambutan, patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan; ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia. _________________________ 1 Mereka adalah ‘Ariya Saṅgha’, yakni : makhluk-makhluk yang telah mencapai Sotāpattimagga, Sotāpattiphala, Sakadāgāmimagga, Sakadāgāmiphala, Anāgāmimagga, Anāgāmiphala, Arahattamagga, Arahattaphala.
|
96 |
| 8 |
PABBATOPAMA GĀTHĀ atau DHAMMANIYĀMA SUTTA
PABBATOPAMA GĀTHĀ1 Yathāpi selā vipulā Nabhaṁ āhacca pabbatā Samantā anupariyeyyuṁ Nippothentā catuddisā. Evaṁ jarā ca maccu ca Adhivattanti pāṇino Khattiye brāhmaṇe vesse Sudde caṇḍālapukkuse. Na kiñci parivajjeti Sabbamevā-bhimaddati Na tattha hatthīnaṁ bhūmi Na rathānaṁ na pattiyā, Na cāpi mantayuddhena Sakkā jetuṁ dhanena vā. Tasmā hi paṇḍito poso Sampassaṁ atthamattano Buddhe dhamme ca saṅghe ca Dhīro saddhaṁ nivesaye. Yo dhammacārī kāyena Vācāya uda cetasā Idheva naṁ pasaṁsati Pecca sagge pamodatīti.
Bagaikan gunung cadas yang amat besar, puncaknya (tinggi) menjulang ke angkasa menggelinding berkeliling di keempat penjuru, menggilas segala yang menghalang; demikianlah kelapukan dan kematian mencengkeram semua makhluk hidup, apakah mereka kaum kesatria, brahmana, pedagang, pekerja, kaum terkucil2 atau pun kaum pembuang sampah3. Tidak seorang pun akan terhindar. Kelapukan dan kematian menerjang semuanya, tidak terlawan oleh pasukan bergajah, pasukan berkereta maupun pasukan berjalan kaki; tidak juga terlawan dengan kekuatan mantra, atau pun dengan pemberian harta kekayaan. Sebab itulah ia yang bijaksana, setelah mengetahui manfaat kebajikan bagi diri sendiri; memperkuat keyakinannya kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Siapa pun yang melaksanakan Dhamma dengan baik, baik melalui perbuatan, ucapan atau pun pikiran; saat hidup di dunia, ia dipuji para bijaksanawan bila kematian tiba, akan berbahagia di alam surga. _________________________ 1 Saṁyuttanikāya, Sagāthāvagga. 2 Caṇḍāla adalah salah satu kaum yang lahir dari dua kasta orangtua yang berbeda. Hidup mereka terkucil dari masyarakat. 3 Kaum pembuang sampah adalah satu nama kasta, pukkusa, yang berarti ‘kaum pembuang bunga habis pakai (pupphachaḍḍajāti)’.
atau
DHAMMANIYĀMA SUTTA1 Evamme sutaṁ. Ekaṁ samayaṁ Bhagavā, Sāvatthiyaṁ viharati, Jetavane Anāthapiṇḍikassa, ārāme. Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi bhikkhavoti. Bhadanteti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ. Bhagavā etadavoca. Uppādā vā bhikkhave tathāgatānaṁ anuppādā vā tathāgatānaṁ, Ṭhitāva sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhammaniyāmatā, Sabbe saṅkhārā aniccāti. Taṁ Tathāgato abhisambujjhati abhisameti, Abhisambujjhitvā abhisametvā ācikkhati deseti, Paññapeti paṭṭhappeti, vivarati vibhajati uttānīkaroti, Sabbe saṅkhārā aniccāti. Uppādā vā bhikkhave tathāgatānaṁ anuppādā vā tathāgatānaṁ, Ṭhitāva sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhammaniyāmatā, Sabbe saṅkhārā dukkhāti. Taṁ tathāgato abhisambujjhati abhisameti, Abhisambujjhitvā abhisametvā ācikkhati deseti, Paññapeti paṭṭhappeti, vivarati vibhajati uttānīkaroti, Sabbe saṅkhārā dukkhāti. Uppādā vā bhikkhave tathāgatānaṁ anuppādā vā tathāgatānaṁ, Ṭhitāva sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhammaniyāmatā, Sabbe dhammā anattāti. Taṁ Tathāgato abhisambujjhati abhisameti, Abhisambujjhitvā abhisametvā ācikkhati deseti, Paññapeti paṭṭhappeti, vivarati vibhajati uttānīkaroti, Sabbe dhammā anattāti. Idamavoca bhagavā. Attamanā te bhikkhū bhagavato bhāsitaṁ, Abhinandunti.
Demikian telah saya dengar. Suatu ketika Sang Bhagavā bersemayam di Jetavana, ārāma milik hartawan Anāthapiṇḍika, di dekat kota Sāvatthī. Saat itulah Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu, ʺWahai para Bhikkhu!ʺ ʺBaik, Yang Mulia,ʺ sahut para bhikkhu kepada Sang Bhagavā. Sang Bhagavā lalu membabarkan sutta ini. ʺO para Bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau pun tidak muncul di dunia, terdapat suatu hukum yang tetap keberadaannya, terdapat suatu hukum yang pasti keberadaannya bahwa, ʺSegala bentukan2 adalah anicca3ʺ. Tathāgata sepenuhnya mengetahui dan menyadari hal itu. Setelah sepenuhnya mengetahui dan menyadari, Tathāgata mengumumkan, membabarkan, menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan, membentangkan bahwa, ʺSegala bentukan adalah aniccaʺ. ʺO para Bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau pun tidak muncul di dunia, terdapat suatu hukum yang tetap keberadaannya, terdapat suatu hukum yang pasti keberadaannya bahwa, ʺSegala bentukan adalah dukkha4ʺ. Tathāgata sepenuhnya mengetahui dan menyadari hal itu. Setelah sepenuhnya mengetahui dan menyadari, Tathāgata mengumumkan, membabarkan, menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan, membentangkan, bahwa ʺSegala bentukan adalah dukkhaʺ. ʺO para Bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau pun tidak muncul di dunia, terdapat suatu hukum yang tetap keberadaannya, terdapat suatu hukum yang pasti keberadaannya bahwa, ʺSegala bentukan maupun bukan bentukan5 adalah anattā6ʺ. Tathāgata sepenuhnya mengetahui dan menyadari hal itu. Setelah sepenuhnya mengetahui dan menyadari, Tathāgata mengumumkan, membabarkan, menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan, membentangkan, bahwa ʺSegala bentukan maupun bukan bentukan adalah anattāʺ. Demikian Sang Bhagavā bersabda. Para bhikkhu berpuas hati dan bergembira atas sabda Sang Bhagavā. _________________________ 1 Aṅguttaranikāya, Tikanipāta. 2 Saṅkhārā: segala sesuatu yang berkondisi, segala sesuatu yang muncul dari atau karena faktor-faktor pembentuk, perpaduan dari yang berkondisi. ‘Saṅkhārā’ juga dimaksudkan untuk pengertian ‘pañcakhandhā’. 3 Anicca: tidak kekal, keberadaan yang setelah muncul akan mengalami kelenyapan. 4 Dukkha: sukar bertahan; keberadaan yang menekan, menghimpit. 5 Dhamma: segala sesuatu hal, baik yang berfaktor pembentuk (saṅkhata-dhamma) maupun yang tak berfaktor pembentuk (asaṅkhata-dhamma). 6 Anattā: bukan diri, keberadaan yang di luar kuasa atau pengaruh apapun; bukan inti abadi.
|
128/130 |
| 9 |
TILAKKHAṆĀDI GĀTHĀ
TILAKKHAṆĀDI GĀTHĀ1 Sabbe saṅkhārā aniccāti Yadā paññāya passati Atha nibbindati dukkhe Esa maggo visuddhiyā. Sabbe saṅkhārā dukkhāti Yadā paññāya passati Atha nibbindati dukkhe Esa maggo visuddhiyā. Sabbe dhammā anattāti Yadā paññāya passati Atha nibbindati dukkhe Esa maggo visuddhiyā. Appakā te manussesu Ye janā pāragāmino Athāyaṁ itarā pajā Tīramevānudhāvati. Ye ca kho sammadakkhāte Dhamme dhammānuvattino Te janā pāramessanti Maccudheyyaṁ suduttaraṁ. Kaṇhaṁ dhammaṁ vippahāya Sukkaṁ bhāvetha paṇḍito. Okā anokamāgamma Viveke yattha dūramaṁ. Tatrā-bhiratimiccheyya Hitvā kāme akiñcano Pariyodapeyya attānaṁ Cittaklesehi paṇḍito. Yesaṁ sambodhiyaṅgesu Sammā cittaṁ subhāvitaṁ Ādānapaṭinissagge Anupādāya ye ratā Khiṇāsavā jutimanto Te loke parinibbutāti.
Pada saat ia yang bijaksana melihat dengan jelas, bahwa segala bentukan2 tidak kekal adanya; kala itu, ia akan jenuh terhadap derita3. Kejenuhan terhadap derita itu adalah jalan kesucian. Pada saat ia yang bijaksana melihat dengan jelas, bahwa segala bentukan sukar bertahan adanya; kala itu, ia akan jenuh terhadap derita. Kejenuhan terhadap derita itu adalah jalan kesucian. Pada saat ia yang bijaksana melihat dengan jelas, bahwa segala bentukan maupun bukan bentukan adalah bukan diri adanya; kala itu, ia akan jenuh terhadap derita. Kejenuhan terhadap derita itu adalah jalan kesucian. Di antara sekian banyaknya manusia, hanya sedikit manusia sampai ke pantai seberang. Sebagian besar manusia lainnya hilir mudik di pantai sini. Mereka yang melaksanakan Dhamma, dalam Dhamma yang telah dibabarkan dengan jelas akan lolos dari jerat Māra4 nan sulit dilepas, tiba di pantai seberang. Ia yang bijak, setelah meninggalkan yang hitam; dengan keluar dari hal yang menimbulkan kesayangan untuk menuju ke hal yang tak menimbulkan kesayangan, sepatutnya mengembangkan yang putih5. Setelah meninggalkan kesenangan indrawi, tidak melekat, dan mendambakan kebahagiaan dalam tanpa kemelekatan nan sulit digemari orang; orang bijaksana menjernihkan diri dari kilesa6. Ia yang mengembangkan batin dengan benar dalam bojjhaṅga7, (dan) ia yang tak melekat, senang dalam melepas kemelekatan, adalah seorang khiṇāsava8, bersinar terang; mencapai Nibbāna di dunia9. _________________________ 1 Khuddakanikāya, Dhammapada. 2 Kata ‘saṅkhārā‘ (syair I dan II) dan kata ‘dhammā’ (syair III), keduanya mengacu pada pañcakhandhā (Dhammapadaṭṭhakathā). 3 Derita karena harus menjaga atau merawat pañcakhandhā. 4 Mcnyeberangi alam saṁsāra yang sebagai tempat tinggal Māra si Raja Kematian. 5 Kata ‘yang hitam’ = keburukan; ‘hal yang menimbulkan kesayangan’ = nafsu indrawi; ‘hal yang tak menimbulkan kesayangan’ = nibbāna; ‘yang putih’ = kebajikan. 6 Pengeruh batin, pengotor batin, kotoran batin. 7 Faktor dhamma untuk mencapai Penerangan. 8 Mereka yang telah habis pengotor batinnya; Arahanta. 9 Padam kilesanya.
|
134 |
| 10 |
PAṀSUKULĀ GĀTHĀ
Aniccā vata saṅkhārā Uppādavaya-dhammino Uppajjitvā nirujjhanti Tesaṁ vūpasamo sukho. Sabbe sattā maranti ca Mariṁsu ca marissare Tathevāhaṁ marissāmi Natthi me ettha saṁsayo.
Segala bentukan tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam; setelah timbul akan lenyap. Padamnya bentukan-bentukan adalah kebahagiaan. Semua makhluk mengalami kematian. Mereka telah mengalami kematian, dan akan mengalami lagi. Demikian pula, saya pasti mengalami kematian. Tiada keraguan bagiku tentang hal ini.
|
137 |
| 11 |
BHĀVANĀ
Dipimpin oleh pemimpin puja bakti ʺSaudara-saudara se-Dhamma, marilah kita mengembangkan pikiran cinta kasih kita kepada mendiang ....... yang telah mendahului kita. Semoga mendiang ....... dalam perjalanan di alam kehidupan selanjutnya selalu mendapatkan jalan ketenangan dan kebahagiaan, hingga akhirnya mencapai kebebasan agung, Nibbāna. Semoga Sang Tiratana selalu melindunginya. Marilah kita memulai bhāvanā.ʺ (Akhir bhāvanā mengucapkan) ʺSabbe sattā bhavantu sukhitattā.ʺ atau ʺSabbe sattā sadā hontu, averā sukhajivino.ʺ 1. Dhammadesanā (pembabaran Dhamma) pendek 2. Ettāvatātiādipattidāna (hal 140) a. Ettāvatā ... tiga kali (devā, bhūtā, sattā) b. Idaṁ vo ... tiga kali c. Ākāsaṭṭhā .... Imaṁ rakkhantu petakaṁ d. Ākāsaṭṭhā .... Ciraṁ rakkhantu vo/no sadā
ETTĀVATĀTIĀDIPATTIDĀNA
Ettāvatā ca amhehi Sambhataṁ puññasampadaṁ Sabbe devānumodantu Sabbasampatti-siddhiyā. Ettāvatā ca amhehi Sambhataṁ puññasampadaṁ Sabbe bhūtānumodantu Sabbasampatti-siddhiyā. Ettāvatā ca amhehi Sambhataṁ puññasampadaṁ Sabbe sattānumodantu Sabbasampatti-siddhiyā. Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu. Sukhitā hontu ñātayo. Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu. Sukhitā hontu ñātayo. Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu. Sukhitā hontu ñātayo. Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā Devā nāgā mahiddhikā Puññaṁ taṁ anumoditvā Imaṁ rakkhantu petakaṁ1 Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā Devā nāgā mahiddhikā Puññaṁ taṁ anumoditvā Ciraṁ rakkhantu vo sadā.
Semoga para dewa turut bersukacita atas timbunan kebajikan yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini demi keberuntungan dan keberhasilan. Semoga para makhluk halus turut bersukacita atas timbunan kebajikan yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini demi keberuntungan dan keberhasilan. Semoga semua makhluk hidup turut bersukacita atas timbunan kebajikan yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini demi keberuntungan dan keberhasilan. Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga. Semoga sanak keluarga berbahagia. Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga. Semoga sanak keluarga berbahagia. Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga. Semoga sanak keluarga berbahagia. Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi, juga para naga2, mereka yang perkasa; setelah turut bersukacita atas jasa ini, melindungi mendiang (disebut nama mendiang) ini. Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi, juga para naga, mereka yang perkasa; setelah turut bersukacita atas jasa ini, selalu melindungi Anda semua selamanya. _________________________ 1 Baris ini dibaca seraya mengenang mendiang yang dituju. Apabila ditujukan pada lebih dari satu orang, ganti baris ini dengan, ‘Ime rakkhantu petake’. 2 Naga di sini adalah sebutan dewa yang berkuasa atas perairan; dalam syair ini tercakup tiga jenis dewa perkasa yang berkuasa atas tiga wilayah, yaitu: angkasa, daratan dan perairan.
|
15 |
|
III. Di Pemakaman atau Di Perabuan |
|
| 12 |
PUBBABHĀGANAMAKĀRA
Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (Tikkhattuṁ)
Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Mahāsuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna. (tiga kali)
|
127 |
| 13 |
BUDDHĀNUSSATI
Iti pi so bhagavā arahaṁ sammāsambuddho, Vijjācaraṇa-sampanno sugato lokavidū, Anuttaro purisadammasārathi, satthā devamanussānaṁ, buddho bhagavāti.
Karena itulah1 Sang Bhagavā, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan. _________________________ 1 ‘Iti’ disini bermakna sebagai ‘sebab’ (Sīlakkhandhavagga-aṭṭhakathā).
|
95 |
| 14 |
DHAMMĀNUSSATI
Svākkhāto bhagavatā dhammo, Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko, Opanayiko paccattaṁ veditabbo viññūhīti.
Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā, terlihat amat jelas, tak bersela waktu1, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing. _________________________ 1 Tiada sela atau jeda waktu antara pencapaian Jalan dan pengenyaman Buah.
|
96 |
| 15 |
SAṄGHĀNUSSATI
Supaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Ujupaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Ñāyapaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Sāmīcipaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, Yadidam cattāri purisayugāni aṭṭhapurisapuggalā, Esa bhagavato sāvakasaṅgho, Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjalikaraṇīyo, Anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassāti.
Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak baik, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak lurus, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak benar, Sanggha siswa Sang Bhagavā telah bertindak patut, Mereka adalah empat pasang makhluk, terdiri dari delapan jenis makhluk suci1. Itulah Saṅgha siswa Sang Bhagavā; Patut menerima pujaan, patut menerima sambutan, patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan; ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia. _________________________ 1 Mereka adalah ‘Ariya Saṅgha’, yakni : makhluk-makhluk yang telah mencapai Sotāpattimagga, Sotāpattiphala, Sakadāgāmimagga, Sakadāgāmiphala, Anāgāmimagga, Anāgāmiphala, Arahattamagga, Arahattaphala.
|
96 |
| 16 |
PAṀSUKULĀ GĀTHĀ
(Pada waktu membacakan Aniccā vata ..., bunga ditaburkan di atas peti jenazah)
Aniccā vata saṅkhārā Uppādavaya-dhammino Uppajjitvā nirujjhanti Tesaṁ vūpasamo sukho. Sabbe sattā maranti ca Mariṁsu ca marissare Tathevāhaṁ marissāmi Natthi me ettha saṁsayo.
Segala bentukan tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam; setelah timbul akan lenyap. Padamnya bentukan-bentukan adalah kebahagiaan. Semua makhluk mengalami kematian. Mereka telah mengalami kematian, dan akan mengalami lagi. Demikian pula, saya pasti mengalami kematian. Tiada keraguan bagiku tentang hal ini.
|
137 |
| 17 |
SUMAṄGALA GĀTHĀ II
Bhavatu sabbamaṅgalaṁ Rakkhantu sabbadevatā Sabbabuddhā-nubhāvena Sadā sotthī bhavantu te.
Bhavatu sabbamaṅgalaṁ Rakkhantu sabbadevatā Sabbadhammā-nubhāvena Sadā sotthī bhavantu te. Bhavatu sabbamaṅgalaṁ Rakkhantu sabbadevatā Sabbasaṅghā-nubhāvena Sadā sotthī bhavantu te.
Semoga jadilah semua berkah kebaikan. Semoga semua dewa melindungi. Dan, dengan kekuatan semua Buddha, Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda. Semoga jadilah semua berkah kebaikan. Semoga semua dewa melindungi. Dan, dengan kekuatan semua Dhamma, Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda. Semoga jadilah semua berkah kebaikan. Semoga semua dewa melindungi. Dan, dengan kekuatan semua Saṅgha, Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.
|
121 |
|
Catatan: Jika keadaan memungkinkan, dapat diberikan pembabaran Dhamma singkat. |
|
| 18 |
IV. PERIHAL MAKAM DAN ABU
Apabila jenasah dimakamkan, di makam dapat dibangun nisan dalam bentuk sesuai selera, atau jika menghendaki, dapat dalam bentuk stupa, atau bergambar stupa. Apabila jenasah diperabukan, sebagian abu jenasah boleh disimpan untuk objek penghormatan bagi sanak kerabat atau mereka yang menghormati. Tempat penyimpan abu dapat dibentuk sesuai selera atau jika menghendaki dapat dibentuk stupa.
|
16 |